Bagusnya Membangun Rumah Idaman Minimalis Masa Kini (Bag.2)

25 Mei 2015 | Hunian Impian | 2932 views

Di bagian pertama, sudah kita bahas bahwa dalam membangun rumah idaman minimalis diperlukan perencanaan yang matang, pelaksanaan yang sesuai standar, pengawasan yang baik, serta perawatan yang teratur. Akan tetapi sebelum melangkah jauh kesana, ada beberapa hal fundamental yang harus diketahui, yaitu aspek material bahan bangunan, teknis pekerjaan, dan biaya.

Biaya membengkak dompet teriak, suatu keadaan yang tidak menguntungkan bagi pemilik rumah atau calon pemilik rumah idaman ketika melakukan pembangunan/renovasi rumah. Situasi yang seolah menjadi persepsi tersendiri dalam pemikiran calon dan pemilik rumah. Terkadang persepsi ini akan berpotensi sebagai penghambat niatan calon dan pemilik rumah untuk merealisasikan mimpinya memilikirumah ideal atau membangun rumah idaman minimalis. Dalam hal ini, persiapan biaya tak terduga bisa menjadi anak tangga yang harus digapai guna mewujudkan keinginan membangun rumah idaman minimalis baik yang 1 lantai maupun 2 lantai.

Terlepas dari segala kemungkinan yang terjadi pada saat memulai suatu proyek pembangunan/renovasi rumah maka niat dan keteguhan hati untuk merealisasikan membangun rumah idaman minimalis masa kini adalah hal pertama yang harus kita lakukan. Apa hubungannya? jelas ini sangat berhubungan dengan segala proses yang akan dilalui selanjutnya. Dengan adanya niat dan keteguhan hati, maka realisasi dari impian membangun/renovasi rumah impian yang sudah direncanakan dengan matang dan sungguh-sungguh akan terwujud, sekalipun ada hambatan atau persoalan di tengah prosesnya.

Ada banyak sekali faktor yang berhubungan dengan perencanaan suatu proyek pembangunan. Hal ini akan kita bahas lebih rinci pada artikel selanjutnya. Namun, berkaitan dengan hal tersebut, ada beberapa hal yang sangat relevan terhadap kegagalan dalam merencanakan pembangunan. Poin-poin ini dapat menyebabkan pembengkakan pada biaya bangun/renovasi rumah:

1. Konsep rumah yang tidak didokumentasikan dalam gambar rencana

Gambar kerja tidak harus ada pada proyek yang besar, pada proyek dengan skala kecil, gambar kerja berfungsi untuk menuangkan konsep, merevisi, dan menambahkan atau mengurangi, hingga menjadi suatu desain rumah yang tepat. Dengan demikian, tidak akan ada pekerjaan bongkar pada saat proyek pembangunan telah berlangsung karena bongkar pasang, tambah kurang, telah dilakukan sebelumnya pada saaat pembuatan konsep rumah yang didokumentasikan pada gambar rencana. Di sisi lain, gambar rencana juga berfungsi dalam menghitung volume suatu pekerjaan yang selanjutnya akan menjadi dasar dalam perhitungan biaya setiap pekerjaan.

2. Tidak dilakukan survey terhadap lokasi yang akan dibangun/ direnovasi

Survey berdasarkan kondisi real time di lokasi pembangunan rumah atau existing rumah yang akan direnovasi sangat penting dilakukan. Hal ini erat kaitanya dengan segala ukuran dimensi rumah yang akan dibangun. Hal-hal yang tidak sesuai dengan keadaan di lapangan disebabkan oleh tidak dilakukannya survey sebelumnya, renovasi material tentunya sangat dibutuhkan material, kebutuhan. Pengukuran kondisi real di lapangan merupakan salah satu keakuratan dalam perencanaan.  Akibat dari ketidaktepatan ukuran perencanaan karena tidak dilakukannya survey lokasi yaitu sering terjadi kesalahan dalam penentuan dimensi dengan kondisi lapangan sehingga upaya bongkar pasang pekerjaan yang tidak sesuai dengan ukuran harus dilakukan. Hal ini pada akhirnya membutuhkan biaya tambahan, di luar biaya yang sudah ditentukan.

3. Ekspektasi terhadap material yang kurang tepat

Untuk membangun/material bergantung pada volume pekerjaan dan spesifikasi material itu sendiri. Setiap material mempunyai spesifikasi tertentu dalam memenuhi kebutuhan suatu pekerjaan. Misalnya untuk melakukan pekerjaan acian dengan ketebalan 1,5 mm, 1 sak White Mortar TR-30 dapat digunakan untukdinding seluas 17 m2. Dengan demikian, kebutuhan material dalam setiap pekerjaan dapat diperhitungkan. Kesalahan dalam ekspektasi terhadap kebutuhan material bahan bangunan, baik dalam volume ataupun harga untuk setiap tingkatan kualitas dapat menjadi salah satu penyebab membengkaknya biaya pembangunan/renovasi rumah.

4. Pengurusan legalitas berdasarkan regulasi yang berlaku

Hal ini sangat penting, mengingat legalitas atau ijin yang berlaku secara sah di mata hukum akan memberikan kenyamanan dan keamanan, baik selama proses pembangunan, maupun pada saat pembangunan telah selesai. Seringakali proyek terpaksa dihentikan karena harus mengurus perijinan. Terhentinya proyek tentu sangat merugikan, baik dalam waktu dan biaya, dimana persediaan dana untuk pembangunan akan semakin menipis dan bisa jadi habis sebelum waktunya.

5. Kurangnya konsistensi terhadap konsep rumah yang pertama kali disepakati

Terkadang ketika proses pembangunan/renovasi rumah berlangsung tiba-tiba terdapat keinginan untuk mengubah konsep, menambah, mengurangi, atau memindahkan. Keingninan tersebut dapat timbul bukan hanya dari calon atau pemilik rumah, tapi bisa juga dari lingkungan dan orang-orang sekitar calon atau pemilik rumah tersebut. Dengan demikian biaya bisa bertambah untuk pekerjaan tambah-kurang dari konsep/desain awal yang telah disepakati.

Seperti halnya suatu cerita yang dimulai melalui sebuah prolog, pertanyaan mendasar yang menjadi sebuah persepsi saat ini adalah seberapa siapkah perencanaan pembangunan/renovasi yang telah dibuat? Dari paparan di atas, dapat dinilai bahwa calon atau pemilik rumah cenderung memiliki keharusan untuk menyiapkan dana tambahan dalam biaya pembangunan/ renovasi rumah. Hal ini guna memantapkan perencanaan  dan realisasi pembangunan. Kesiapan dan kematangan dalam perencanaan serta konsistensi dalam menjalankan pembangunan sesuai dengan perencanaan  merupakan salah satu kunci sukses tercapainya pembangunan rumah idaman minimalis. Tentunya tanpa biaya yang membengkak atau dompet yang teriak.



Berita Lainnya